Kamis, 05 Mei 2011

Tristar Cetak Calon Pebisnis Pupuk


SETELAH sukses menggelar pelatihan membuat bioetanol dari singkong, Politeknik Tristar kembali menggelar program pelatihan industri tepat guna berupa pelatihan pembuatan pupuk NPK dan pupuk cair organik (PCO).
Indonesia sebagai negara agraris yang mengandalkan pertanian untuk mendukung industri, salah satu komponen utama dalam mewujudkan pertanian yang tangguh dan mandiri adalah penyediaan sarana produksi pertanian dalam jumlah mencukupi saat musim tanam terutama benih/bibit tanaman, pupuk, dan obat-obatan pertanian merupakan sebuah keniscayaan.
Pupuk sebagai salah satu komponen dalam industri agrobisnis memainkan peranan penting, utamanya dalam merealisasi program go green 2010 yang dicanangkan Pemerintah cq Kantor Kementerian Pertanian. Dukungan luas dari program tersebut datang dari para pemain utama industri pupuk di Indonesia seperti PT Ptrokimia Gresik, PT Pupuk Kalimantan Timur (PKT) dan PT Pupuk Sriwijaya (Pusri). Ketiganya adalah Badan Usaha Milik Negara (BUMN). 
 Program go green 2010 memungkinkan usaha kecil menengah (UKM) tumbuh dan berkembang dalam industri pupuk skala menengah kecil karena pemerintah tahun ini mulai mengurangi subsidi pupuk anorganik menjadi Rp 8 triliun, sedangkan pupuk organik NPK subsidinya meningkat menjadi Rp 11 triliun. Total subsidi pupuk dari pemerintah Rp 19 tiliun.
Akibatnya, pupuk anorganik –merek Phonska dan Niphonska—langka di Jawa maupun luar Jawa. Kelangkaan pupuk anorganik ini juga imbas dari seretnya pasokan gas dan BBM untuk industri pupuk skala besar. Karena itu, pemerintah saat ini menggenjot UKM pupuk NPK untuk berpartisipasi dalam produksi dan penyaluran pupuk NPK ke petani.
Tak pelak jika kebutuhan pupuk NPK belakangan semakin tinggi, setelah adanya pembukaan kebun-kebun kelapa sawit baru di Kalimantan dan Sumatera yang membutuhkan pupuk NPK 15.15.15. Pupuk jenis ini dinilai paling aplikatif baik untuk tanaman padi, menyusul dikuranginya jatah Urea sebagai pupuk starter menjadi 200 kg per hektare dan digunakan untuk pemupukan kelapa sawit di lahan-lahan gambut daerah Kalimantan yang dioplos dengan dolomite.
“Nah, melihat kenyataan itu maka jumah UKM pupuk organik NPK 15.15.15 akhir-akhir ini tumbuh baik jamur di musim penghujan. Namun tidak sedikit diantara pemain itu yang kerjanya ngawur (asal-asalan) sehingga berurusan dengan polisi,” Ir Dwi Andriyanto, instruktur pelatihan pupuk dari Politeknik Tristar. Untuk menghindari hal-hal yang tidak mengenakkan tersebut, maka calon pemain industri pupuk organik NPK skala kecil menengah (home industry) disarankan agar mematuhi aturan yang berlaku. Sedikitnya ada 10 berkas perijinan yang harus dipenuhi pengusaha pupuk pemula, yakni:
-       Akte pendirian badan usaha berikut pengesahannya dikeluarkan oleh Depkumham.
-       Ijin prinsip dikeluarkan Pemkot/Pemkab.
-       Ijin gangguan (HO) oleh dinas perijinan Kabupaten/Kota.
-       SIUP dari Disperindag Kota/Kabupaten.
-       TDP dari Disperindag Kota/Kabupaten.
-       TDI dari Disperindag Kota/Kabupaten.
-       NPWP dan SPPKP oleh Dirjen Pajak Depkeu.
-       Surat ijin terdaftar (SIT) oleh Deptan (Pendaftaran dilakukan untuk setiap varian produk).
-       Surat ijin merek dikeluarkan oleh Ditjen HAKI Depkumham.
-       Sertifikat produk pengguna tanda SNI dikeluarkan oleh lembaga sertifikasi produk. Certificate of Analysis (CoA) dari PT Sucofindo (Persero).

Sementara itu, untuk membuat pupuk organik NPK 15.15.15 dalam industri pupuk skala rumahan relatif mudah dan murah, senyampang bahan dan peralatannya siap serta pihak pelaksananya mengikuti posedur yang telah ditentukan.
Untuk peralatan bantu yang harus disediakan antara lain mixer, screen (ayakan), pan granulator, chrusser, rotary dryer, rotary cooler. Sedangkan bahan baku yang disiapkan adalah Urea (N) 32 kg, ZA (Zulfur Amonium-N&S) 8 kg, MPO (KCl) 38 kg, Diamonium Phosphate (DAP-N&P) 20 kg, Dolomite (Ca&Mg) 8 kg, Rock Phosphate 15 persen 28 kg, Phosphoric Acid 85 persen 6 kg, White Clay untuk coating 10 kg, dan Iron Oxide (Red) untuk pewarnanya.
Menurut Andriyan, sapaan karib Dwi Andriyanto, untuk membuat pupuk organik NPK biayanya relatif murah. Dengan modal sekitar Rp 650 ribu untuk pengadaan bahan baku. HPP bahan baku Rp 4.356 per kg. Biaya produksi hanya Rp 100 per kg, tenaga kerja Rp 85 per kg, biaya packaging Rp 75 per kg, biaya lain-lain Rp 50 per kg. Total Rp 4.666 per kg, sedangkan profit nettonya bisa mencapai Rp 840 per kg jika harga jual pupuk NPK Rp 5.505 per kg.
Selain mendapat penjelasan dari Andriyanto, peserta kursus juga dibekali ilmu membuat pupuk pelengkap cair (PPC) dari Ir Maruto. PPC yang dikembangkannya itu memanfaatkan bahan limbah rumah tangga dan pekarangan. Untuk mendapatkan pupuk cair organik (PCO), pihaknya memanfaatkan mikroorganisme yang berfungsi membantu fermentasi bahan baku PCO.
Sementara itu, ditemui Tristar Mutimedia disela kegiatan pelatihan, satu dari 13 peserta pelatihan pembuatan pupuk, Fifi Laksono menuturkan, dirinya menaruh harapan besar untuk merealisasi kegiatan kursus singkat ini dengan mendirikan pabrik pupuk organik NPK skala kecil menengah di Banjarmasin. Sejauh ini, kebun sawit yang dikelola suaminya butuh suplai yang tidak sedikit baik dari sisi jumlah maupun harganya. “Nah, jika kami punya pabrik pupuk untuk memenuhi kebun sendiri, tentu akan meghemat cost,” tutur ibu lima anak ini, kemarin.
Karena itu, sehabis mengikuti pelatihan ini, pihaknya masih butuh bimbingan dari instruktur sekaligus konsultasi sebelum memutuskan membangun pabrik pupuk mini di Kalimantan Selatan. Dengan bekal pelatihan ini pula ia mengaku jadi tahu apa saja yang dibutuhkan untuk membangun pabrik pupuk organik NPK 15.15.15 yang kini digalakkan pemerintah.
Sedangkan Christian dari PT Molindo Lawang, lebih memilih sharing dengan pihak pengajar Tristar karena di pabriknya sendiri selain memroduksi alkohol dari bahan baku tetes tebu, juga memrpoduksi pupuk granuler dan PPC.  Dengan demikian limbah industri alkohol di pabriknya masih bisa dimanfaatkan untuk pupuk yang berguna bagi petani sekitarnya.
“Saya ngikuti acara ini selain untuk sharing, juga ingin melihat langsung teknologi tepat guna yang dikembangkan Tristar bekerja sama dengan Fakultas Pertanian UPN Veteran Surabaya. Paling tidak kami dapat wawasan baru dan pencerahan,” terang pria berkaca mata minus ini. Semoga pelatihan singkat ini, mewujudkan niat Anda jadi pebisnis pupuk organik. 


Bagi anda yang berminat mengikuti pelatihan di TRISTAR POLITEKNIK
hubungi :
Telp.(031) 8438913, 8415016,
Flexi. (031) 81639991, 81959295
HP. 085733691548
Jl. Raya Jemursari 240A,244, Surabaya
Pelatihan di Tristar Politeknik:
1. Budidaya Tanaman Secara Vertikulture
2. Cara Memproduksi Tepung MOCAF (pengganti tepung terigu)
3. Cara Produksi Minyak Goreng Sehat Berbasis Kelapa
4. Kursus Membatik
5. Pembuatan Aneka Sabun Mandi Padat,Sabun Zaitun, Sabun Susu, Sabun Madu
6. Usaha Budidaya Jamur Tiram Terpadu dengan Kolam Lele
7. Cara Membuat Souvenir dari Fiberglass
8. Aneka Selai dari Buah Asli
9. Pelapisan Logam (ANODIZING)
10.Kecap Manis & Kecap Asin
11.Fieldtrip Bisnis Pupuk NPK
12.Industri Bioetanol dari singkong
13.Sablon Manual
14.Cara Pembuatan Mie Pelangi
15.Aneka Minuman Dalam Kemasan
16.PHOTOSHOP
17.Painting On T'Shirt
18.Pembuatan YOGHURT
19.Aneaka Sabun Mandi Cair
20.Aneka Olahan Frozen Food
21. Industri Hand Soap/Sabun Cuci Tangan
22. Aneka Sirup Ekonomis
23. Cara Produksi Wine + Alcohol dari Buah - Buahan + Tebu
24. Pelatihan Budidaya Jamur Merang

Tidak ada komentar:

Posting Komentar